Profile

  • Thiya Renjana
    Thiya Renjana
    Seorang perempuan biasa yg sedang berusaha Salehah dan Sahaja... Yupp, beginilah Thiya memang. Seorang anak muda kurang kerjaan yang ingin tetap eksis, nge-tren, cool, ‘n tetep nyar’i.

Tag





Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib.

Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, "bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur"

1. Bergaul dengan banyak kalangan

Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.

Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, �Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qurï`an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).

"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat.

Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah.

2. Larut dalam angan-angan kosong

Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai.

Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah. Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka.

Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi shalallahu �alaihi wa sallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

3. Bergantung kepada selain Allah

Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah.
Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:
"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra�: 22)

Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.

4. Makanan

Makanan perusak ada dua macam.

Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.

Kedua, merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi.

Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: "Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

5. Kebanyakan tidur

Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.

Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.

Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.

Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu`alaihi wa sallam .

wallahu `alam

(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah)

(read more ...)



Ketika hujan, mungkin sebagian orang tidak mengingat hal ini. Atau mungkin mereka tidak tahu ada amalan yang utama pada saat itu. Apa amalan tersebut? Berikut kami bawakan perkataan Ibnu Qudamah dalam Al Mughni :
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342 mengatakan,”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
 
اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ
 
Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shohihul Jami’)
Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ثِنْتَانِ لا تُرَدَّانِ، أَوْ قَالَ: مَا تُرَدَّانِ، الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ، وَعِنْدَ الْبَأْسِ، حِينَ يَلْتَحِمَ بَعْضُهُ بَعْضًا وَفِي رِوَايَة : ” وَتَحْتَ المَطَر
“Dua orang yang tidak ditolak do’anya adalah : [1] ketika adzan dan [2] ketika rapatnya barisan pada saat perang.” Dalam riwayat lain disebutkan,”Dan ketika hujan turun.” (HR. Abu Daud dan Ad Darimi, namun Ad Darimi tidak menyebut,”Dan ketika hujan turun.” Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih)
Inilah amalan yang sering dilupakan atau mungkin tidak diketahui oleh sebagian orang. Waktu turunnya adalah waktu mustajabnya atau terkabulnya do’a, maka hendaklah kita bersemangat melakukan amalan ini. Dan Allah tidak akan membiarkan hambanya pulang dengan tangan hampa setelah dia dengan penuh pasrah dan khusyu’ ketika menengadahkan tangannya ke langit, meminta segala hajat di dunia terlebih lagi akhirat kepada Allah Yang Maha Mengabulkan setiap permintaan.
Semoga setiap muslim tidak melupakan hal ini.
Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: muslim.or.id

(read more ...)



                                                                                


Nama penuh: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim

Nama bapa: Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim

Nama ibu: Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf

Nama datuk: Syaibah bin Hâsyim dikenal dengan nama Abdul Muttalib

Bapa-bapa saudara:
• Al-Harith bin Abdul Muthalib
• Muqawwam bin Abdul Muthalib
• Zubair bin Abdul Muthalib
• Hamzah bin Abdul Muthalib
• Al-Abbas bin Abdul Muthalib
• Abu Thalib bin Abdul Muthalib
• Abu Lahab bin Abdul Muthalib
• Abdul Kaabah bin Abdul Muthalib
• Hijl bin Abdul Muthalib
• Dzirar bin Abdul Muthalib
• Ghaidaq bin Abdul Muthalib

Nama Ibu susuan Rasulullah:
- Ibu susuan pertama Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab)
- Ibu susuan kedua Halimah binti Abu Zuaib As-Sa‘diah (lebih dikenali Halimah As-Sa‘diah. Suaminya bernama Abu Kabsyah)

Nama isteri pertama dan usia baginda berkahwin:
Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah pada 25 tahun

Nama isteri-isteri Rasulullah:
1. Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a
2. Saudah bt. Zamah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a
3. Aisyah bt Abi Bakr r.a (anak Saidina Abu Bakar)
4. Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a (anak Saidina Umar bin Al-Khattab
5. Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a (digelar Ummi Salamah)
6. Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a
7. Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith
8. Safiyah bt. Huyay
9. Zainab bt. Jansyin
10. Asma bt. al-Numan al-Kindiyah
11. Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah
12. Zainab bin Khuzaimah (digelar Ummu Al-Masakin; Ibu Orang Miskin)

Nama anak-anak Rasulullah:
1. Qasim
2. Abdullah
3. Ibrahim
4. Zainab
5. Ruqaiyah
6. Ummi Kalthum
7. Fatimah Al-Zahra
8. Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah al-Tamimi (anak kepada Saidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).[anak tiri Rasulullah]

Pengalaman bekerja Rasulullah:
  • Semenjak kecil lagi, baginda telah menternak kambing dan berniaga membantu bapa saudaranya.
  • Abu Talib telah membawa baginda ke Syam (Syria) bagi membantunya berniaga.
  • Apabila baginda telah agak dewasa, baginda telah mula menjalankan perdagangan baginda sendiri secara kecil-kecilan dan menjalankan perniagaan dengan menggunakan modal orang lain kerana baginda sedar bapa saudaranya bukanlah terdiri daripada orang yang berada dan beliau terpaksa menyara sebuah keluarga yang besar.
  • Ketika baginda berusia dua puluh lima tahun, baginda telah pergi ke Syam untuk kali kedua bagi menjalankan perniagaan Sayidatina Khadijah. Bukti Rasulullah adalah seorang ketua keluarga yang patut dicontohi: Rasulullah merupakan seorang yang pengasih. 
  • Sebagai seorang suami, baginda sering membantu isteri menjalankan urusan rumah seperti memasak, menampal pakaian yang koyak, memmbersih rumah dan menjaga anak.
  • Sebagai seorang bapa, baginda memberi pendidikan agama yang secukupnya dan menjadi seorang contoh yang baik kepada anak-anak.

Gelaran Al-Amin: Baginda merupakan seorang yang jujur, amanah dan budi pekerti. Perkataan dan perbuatan baginda sentiasa dipercayai sehingga baginda diberi gelaran al-Amin oleh masyarakat Arab Quraisy.

Sifat-sifat terpuji Rasulullah:
- Berkata benar (siddiq)
- Boleh dipercayai (amanah)
- Penyampai ajaran Islam (tabliq)
- Bijaksana (fatanah)

kepimpinan Rasulullah disebalik peristiwa banjir di kota Mekah ketika Rasulullah berusia 35thn: Kota Mekah telah dilanda banjir kilat yang menyebabkan dinding kaabah pecah dan runtuh. Kaum Quraisy telah membina semula bahagian yang runtuh. Kemudian timbul perbalahan antara ketua kaum Quraisy yang berebut untuk mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad di penjuru sebelah timur bangunan kaabah. Perbalahan ini hampir menimbulkan peperangan. Rasulullah telah menjadi hakim bagi menentukan kedudukan Hajar Aswad dan secara tidak langsung Rasulullah telah meleraikan perbalahan antara ketua kaum Quraisy.

Peristiwa Rasulullah menerima wahyu:
- Wahyu pertama diterima Rasulullah pada hari isnin, 17 ramadan (6 ogos 610 M)
- Ketika itu Rasulullah berusia 40 tahun.
- Wahyu tersebut diterima baginda di Gua Hirak al-Jabar Nur.
- Surah al-Alaq, wahyu pertama yang berbunyi "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Amat Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
- Wahyu kedua, surah al-Muddasir (ayat 1-7) diturunkan di Bukit Nur berhampiran Makkah.
- Wahyu kedua ini menandakan pelantikan baginda sebagai Rasulullah atau pesuruh Allah.

Tokoh-tokoh awal memeluk Islam:
• Zaid bin Harithah (anak angkat nabi)
• Ali bin Abu Talib (sepupu nabi berusia 10 tahun)
• Khadijah binti Khuwailid (isteri nabi dan orang pertama memeluk Islam)
• Abu Bakar al-Siddiq (sahabat karib)

wahyu pertama yg diterima oleh Rasulullah, masanya dan usia Rasulullah:
- Wahyu pertama iaitu dari surah al-Alaq yang berbunyi "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Amat Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
- pada hari isnin, 17 ramadan (6 ogos 610 M)
- Berusia 40 tahun.

Keadaan Rasulullah ketika menerima wahyu:
Pada suatu ketika sedang dia bertafakkur itu datanglah malaikat kepadanya, lalu berkata: "Bacalah!" (Iqra). Lalu Rasulullah menjawab; "Saya tidak pandai membaca." Lalu kata beliau: "Maka diambilnya aku dan dipagutnya sampai habis tenagaku. Kemudian dilepaskan¬nya aku dan dia berkata pula: "Bacalah!" Tetapi aku jawab: "Aku tidak pandai membaca!" Lalu dipagutnya pula aku sampai habis pula tenagaku.

Kemudian ditegakkannya aku baik-baik dan dikatakannya pula: "Bacalah!", yang ketiga kali, lalu berkatalah malaikat itu: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan," sampai kepada ujung "Yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang dia tidak tahu." Setelah sampai pada ujung ayat tersebut malaikat itu pun ghaiblah dan tinggallah beliau seorang diri dalam rasa kengerian.

Lalu beliau segera pulang kepada isterinya Khadijah. Lalu beliau berkata: "Selimutilah aku, selimutilah aku." (Zammiluuni, zammiluuni). Maka segeralah orang-orang dalam rumah menyelimuti beliau, sampai rasa dingin itu hilang. Lalu berkatalah beliau kepada Khadijah: "Hai Khadijah, apakah yang telah terjadi atas diriku ini?" Lalu beliau ceriterakan segala yang telah beliau alami itu, akhirnya beliau berkata: "Aku ngeri atas diriku."

  Taken from:  www.iluvislam.com

(read more ...)



"Rajab telah pergidan Syaban telah datang mengganti.
Jiwa yang telah meninggalkan badan jasmani, yang tercinta telah masuk kini.
Napas kejahilan dan kealpaan telah keluar.
Napas cinta dan pengampunan masuk menggetar.
Hati membersitkan mawar.
Karena awan berhujan rahmat telah tiba....


(Jalaluddin Rumi, Penyair sufi legendaris)

(read more ...)



Jul

10

 

08/12/06
Dingin… dentingan hujan menari bernyanyi lagu sedih. Entah kapan berhenti dan mentari kembali berseri. Kini aku sendiri, melihat hujan terus membasahi. Memejamkan mata, ungkapkan makna. Kau yang datang dan pergi, terus hilang begitu saja seperti mimpi. Saat kau hadir, aku sungguh bahagia, tak bisa kuungkapkan rasa dengan kata-kata mudah.
Waktupun terus berlalu, pagi yang indah ditelan malam yang begitu hampa. Tak cukup di situ, takkan berhenti aku terus menunggu pagi. Hingga sampai akhirnya aku bertemu putri lagi. Dalam penantian setiap hari. Aku sepi, tak ada lagi yang menemani. Diary merah saja pergi, tak bernyanyi lagi untuk hati yang selalu bersedih. Ia kembali pada sang puteri. Terus siapa lagi yang akan menjadi teman malamku? Dan dengan siapa aku aku harus bertanya tentang cinta yang masih tak sempurna?
 
09/12/06
Entahlah… Hari ini terasa panas banget, kupingku terasa ada petir kecil yang masuk dan mataku memandang langit sangat kabut.
Lebih-lebih hatiku… sepertinya hancur, tak tenang. Kenapa ya? Padahal dari semalam aku senang banget, karena… tapi sekarang…?
Dari tadi pagi aku menunggu sesuatu dengan begitu semangat, aku sampai tak kenal diri. Tapi kenapa jadinya seperti ini? Sesuatu yang kutunggu sepertinya tak menghiraukanku. Terus… ah sudahlah! Mendingan aku cari sesuatu yang bisa membuatku fun lagi.
Duh, jadi ngantuk nih.. mo ngapain ya? Tidur aja ah. Siapa tau aku akan ahmenemukan senyumnya dalam mimpiku. Ya… itung-itung pengganti penantianku. Sorry ya pena dan buku. Lagi-lagi kalian menjadi teman susah sedihku, angkuhku.
(aku tuh ga mau liat sekalipun muka cemberutnya!!!)
Udah ya.
 
091206/17:51:18
Aku menengadahkan wajahku memandang langit. Kadang rintik, berubah gerimis, lalu kembali badai. Penyesalan adalah sesuatu yang selalu terlambat. Nyaris tak berguna, kecuali menjadi sebuah titik sejarah dalam hidup. Adakah yang lebih sedih daripada rasa kecewa, kecewa pada diri sendiri, karena rasa bersalah. Mengapa aku tidak peka pada keresahan ksatriaku? Mengapa aku tidak sensitive pada perubahan pangeranku? I really don’t know that to say except I’m sorry. I’m very sorry!!!
Diarynya kuterima dengan bonus galau yang langsung menjalari sukma. Kenapa ia begitu dingin padaku? Aku seperti mengaduk-aduk sendiri jiwaku. Mata batinku keruh karena galau terus berkecamuk dalam hatiku seperti angin puting beliung yang mengaparkan pepohonan mencerabut rumput-rumputdari akarnya yang telah tertanam dalam-dalam. Ya Rabb.. betapa inginnya aku menemaninya terus. Menggetarkan kisi-kisi kalbunya hingga tak ada jedauntukku lihat rekah senyumnya. Aku tak bias untuk tidak melihat senyumnya walau sehari saja. Tapi entah kenapa sore ini kulihat ia begitu gusar padahal aku belum puas memandang sosoknya yang begitu cepat menghilang.
Kesendirian kembali memaksaku berhadapan dengan diriku sendiri. Tentara gelisah kembali mengepung, ia bersenjata rasa bersalah yang tak berhingga. Senjata mereka terhunus. Membombardir jiwaku yang paling dalam. Menorah gelisah. Melukis luka. Di selarik kertas itu baru kutahu penyebab gusarnya. Di lembar-lembar diary inipun baru kusadari gelombang galau yang menghantam kepingan hatinya. Dan dalam sekejap dadaku bagai dirajam ujung pisau yang telah ditaburi rabu.
Ternyata akulah penyebab segala gundah dan laranya. Ia telah salah menganggapku mengabaikan keberadaannya. Ia tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, kalau sebetulnya, sejujurnya, aku sangat mengharapkan kehadirannya di setiap pagiku. Aku selalu menanti senyumnya menyapa hari-hariku. Ia tidak pernah tahu kalau aku selalu memendam kecewa tak melihatnya menantiku di setiap paginya. Setiap pagi miliknya. Ia tak pernah tahu kalau hal itu selalu menimbulkan tanya  dalam hatiku bahwa apakah rasa ini hanya menjadi milikku dan bukan miliknya juga. Benarkah hanya aku yang merasakan keruh bila tak melihatnya dan ia tidak?! Tapi kenapa di tiap risalahnya selalu ia katakan begitu merindukanku. Apakah ia yang berdusta atau aku yang kurang peka?
Hari ini ia telah buatku kesal di samping rasa bersalahku barusan. Kesal karena menuduhku cemberut padanya. Cemberut?  Kapan?  Lelah karena baru pulang sekolah apalagi banyak sekali tugas yang dengan tanpa belas kasihan telah dibebankan oleh guru ia anggap aku telah membiarkan mukaku ditekuk di hadapannya.
Ia mungkin lupa kalau sepanjang keberadaanku di sana ia hanya bermain-main dengan teman-temanku. Hanya sekali dua ia terlihat perhatikanku. Bukankah seharusnya aku yang pantas cemburu? Lalu mengapa justru ia yang menuduhku macam-macam?!!

 

bersambung...

(read more ...)